Konseling individual dengan pendekatan do'a usai shalat Fardhu
KONSELING INDIVIDUAL
1. Profil,
latar belakang keluarga, pola asuh orang tua, pendidikan formal klien
Profil klien
Nama : MUP
TTL : 3 Juni 1998
Alamat : Kota
Cilegon
Jurusan/semester/instansi : Bimbingan dan Konseling Islam/
3/ Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
MUP ini merupakan anak sulung dari 3
bersaudara. Orangtuanya bekerja sebagai wiraswasta. Ayahnya merupakan sosok
yang tegas dan keras, sedangkan ibunya merupakan sosok yang ramah dan lembut.
Mereka begitu menyayangi satu sama lain. Pola asuh orang tuanya terhadap ia dan
dua saudaranya cukup baik. setiap kali anak-anaknya pergi, jika sampai sekitar
jam 8/9 malam belum sampai di rumah, ibu/ayahnya pasti akan menghubunginya dan
menanyakan keberadaannya. Selain itu, dari sejak kecil orangtua MUP mulai
membiasakan anak-anaknya untuk membantu kedua orangtuanya. Klien dulu sekolah
di SMP dan SMK Negeri yang berada di kota Cilegon. Dan sekarang ia sedang
menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin
Banten.
2. Deskripsi
Diagnosa tentang masalah klien
Klien ( MUP ) ini memiliki masalah di dalam keluarganya, lebih tepatnya
terhadap ayahnya. Sifat keras ayahnya yang membuat ia merasa sedih dan takut.
Mereka sering berselisih paham dan tak jarang ayahnya sering memarahi
anak-anaknya tanpa alasan yang jelas. Hal kecilpun bisa menyebabkan ia marah.
Dan parahnya,, jika ayahnya sudah sangat marah, tak segan-segan bertindak kasar
kepada anak-anaknya.
Pernah suatu hari saat klien masih di
bangku sekolah dasar, ia berselisih faham dengan ayahnya, karena sifat ayahnya
yang keras dan tak pernah mau mengalah akhirnya ayahnya pun marah dan melempar
kursi kepada klien. Sampai akhirnya klienpun pergi dari rumah dan tak ingin
pulang ke rumahnya lagi karena tak ingin bertemu dengan ayahnya.
Hal itulah yang membuat klien sedih dan
bingung harus bagaimana menyikapi ayahnya yang seperti itu. Ia hanya bisa
berharap agar ayahnya sadar dan tak berbuat kasar lagi setiap kali ia marah.
3. Deskripsi
treatment dalam mengatasi masalah klien
Dari cerita yang diutarakan klien, saya
sedikit memberikan pemahaman dan memberikan treatment dengan cara memberikan
suatu do’a agar klien mengamalkan do’a tersebut dan membacanya setiap usai
shalat Fardhu. Pemahaman yang saya berikan yaitu seburuk apapun, sekasar apapun
orangtua terhadap kita, tetaplah berbakti dan jangan menjadi anak yang durhaka.
Jika ayahnya sedang marah jangan di debat. Cukup dengarkan apa yang ayahnya
katakan. Karena dengan sifat ayahnya yang seperti itu jika ia sedang marah lalu
kita debat, itu hanya akan memperburuk keadaan. Jangankan kita mendebat atau
berbicara dengan nada tinggi, berkata ‘ah’ saja jika itu menyakiti hati
orangtua, itu sudah sangat salah dan berdosa.
Adapun do’a yang saya berikan kepada
klien dan memintanya untuk mengamalkan dan membacakan do’a tersebut setelah
shalat Fardhu, yaitu :
“Allahumma innaKa Antal Azizul Kabir. Wa ana
abduKa Adhdhoiifudzdzaliil. Alladzii laa haula walaa quwwata illaa biK.
Allahumma sakhir… ( sebut nama orang yang di maksud ) … lii kamaa sakhkhorta Firauna li Muusaa. Wa layyin qolbahuu kamaa
layyantalhadiida li Daawuuda. Fa innahuu laayantiqu illaa bi idzniK.
Naashiyatuhuu fii qobdhatiK. Yaa arhamar Roohimiin”.
Yang artinya : “Ya Allah, sungguh engkau
Maha Mulia Maha Besar, sedangkan saya hambaMu yang sangat hina lagi dina yang
tiada upaya dan kekuatan kecuali karena engkau. Ya Allah, tundukanlah……. Padaku
sebagaimana kau telah menundukkan Fir’aun pada Musa. Dan luluhkanlah hatinya
untukku sebagaimana kau telah meluluhkan besi untuk Daud. Karena sungguh dia
takkan berbicara kecuali dengan izinMu, ubun-ubunnya dalam genggamanMu dan
hatinya di tanganMu. Pujian wajahMu telah agung, wahai dzat yang lebih sayang
daripada para penyayang”.
4. Evaluasi
Klienpun mulai mengamalkan do’a tersebut
dari mulai pertemuan pertama. Dan sejak saat itu, setiap 1 minggu sekali saya
menanyakan bagaimana perkembangannya. Minggu-minggu pertama memang masih belum
begitu terasa, namun setelah sekitar 1 bulan lebih Alhamdulillah walaupun
sifat pemarah ayahnya masih belum hilang,
namun setidaknya setiap ayahnya marah tidak ada kekerasan yang terjadi. Selain
itu, klien sekarang sudah mulai bisa memahami dan sabar menghadapi sifat
ayahnya yang seperti itu. Dan klien pun memasrahkan segala urusannya kepada
Allah SWT. Karena ia yakin Allah Maha Mengetahui yang makhluknya tidak ketahui.
Komentar
Posting Komentar