Konseling Qur'ani



 
 Perbandingan kehidupan orang yang hidupnya berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur'an dengan orang yang tidak berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur'an

Essay ini dibuat untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Konseling Qur'ani
Dosen pengampu : Rizqie Fajriyani Jurnaliska, S.Sos.I., M.Si


A. Al-Qur’an
Al-Qur’an secara harfiah berarti “bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan”. Al-Qur’an Al-Karim berarti “bacaan yang maha sempurna dan maha mulia”.[1]
Dengan kata lain, Al-Qur’an merupakan suatu bacaan yang sangat sempurna dan tidak ada yang menandingi kesempurnaannya, segala ilmu pengetahuan terdapat di dalamnya. Selain terdapat ilmu pengetahuan, Al-Qur’an juga merupakan obat.
Allah SWT menyebut Al-Qur’an sebagai ( kitab ) kesembuhan :
Dan kami menurunkan dalam Al-Qur’an, yang merupakan kesembuhan bagi hati dan rahmat bagi penghuni alam semesta”. ( QS. Al-Isra : 82 )
Digunakannya kata Syifa ( kesembuhan ) menunjukkan bahwa selain mengalami derita-derita fisikal, manusia juga mengidap derita spiritual, dengan Al-Qur’an sebagai penyembuh derita tersebut.[2]
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Muslim yang berisi firman-firman/Perkataan Allah SWT. Jelasnya, Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dan sebagai pedoman hidup umat Muslim, disampaikan secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah.

Ada istilah generasi Qur’ani. Generasi Qur’ani bisa diartikan sebagai orang-orang yang senang membaca Al-Qur’an, menghafalkan, mempelajari, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupannya.

B.   Perbandingan kehidupan orang yang hidupnya berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dengan orang yang tidak berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an

1.      Orang yang hidupnya berpegang teguh terhadap nilai-nilai Al-Qur’an

Nama               : Dian Nurkhalisah
TTL                 : Tangerang, 17 April 1999
Alamat             : Balaraja, Tangerang
Pekerjaan         : Pelajar ( Mahasiswi UIN SMH Banten )

Berikut ini sedikit wawancara saya dengan Dian :

-          Siapa orang-orang yang paling berpengaruh untuk anda hingga merutinkan membaca Al-Qur’an serta mengamalkannya dalam kehidupan ?
“yang paling berpengaruh buat dian yang pertama orang tua. Kalau orang tua ga nyuruh saya ngaji, saya ga bakal tau apa itu Al-Qur’an, bagaimana isi dan nilai-nilai Al-Qur’an, dsb. Kedua, dibantu oleh guru ngaji. Ketiga, teman-teman, karena kalau kita bergaul sama temen yang jarang baca Qur’an dan tidak mengamalkan nilai-nilainya kita juga akan terbawa. Yang keempat yaitu dari diri kita sendiri, sekalipun lingkungannya sudah baik, kalau ga ada dorongan dari diri sendiri ya percuma”.

-          Dari sejak kapan mulai merutinkan membaca Qur’an dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan?
“kalau mulai merutinkan membaca Qur’an itu dari mulai kecil sudah dibiasakan, kalau untuk mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an mungkin dari mulai SMP, karena kalau dulu kan saya belum begitu memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, setelah saya memahaminya barulah saya mengaplikasikannya dalam kehidupan”.

-          Bagaimana perasaan dulu sebelum merutinkan/mengamalkan nilai-nilai Qur’an dalam kehidupan dengan sekarang ?
“ketika kita jauh dengan Al-qur’an, tidak membacanya dengan rutin maka hatipun terasa gelisah, kacau, pikiran dan hidup pun tidak terarah. Tetapi, setelah mengamalkan Al-Qur’an dan memahami makna Al-Qur’an maka hidup pun akan terarah dan hatipun tenang atas apa yang Allah berikan, baik itu ujian ataupun rezeki karena sebaik-baik manusia adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya”.

-          Apa alasan terbesar anda menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup? Atau mungkin ada peristiwa menarik dengan Al-Qur’an ?
“karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang paling baik dan sangat bermanfaat. Yang membuat saya menarik menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup adalah karena Al-Qur’an itu memberi syafaat untuk orang yang membaca dan mengamalkannya ketika di akhirat nanti, menjadi penolong kita di yaumul qiamah kelak. Insya Allah orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya maka kehidupannya akan terarah dan selama hidupnya tidak akan sia-sia”.
Dian merupakan wanita yang cantik, baik cantik rupa, hati maupun akhlaknya. Ia seorang yang baik, ramah, sopan, dan mudah berbaur dengan orang lain.

Dari hasil wawancara dan pengamatan yang saya lakukan, dalam menjalankan kehidupan Dian, ia terlihat sangat tenang terutama ketika dihadapkan dengan masalah. Selain itu, ia juga sangat baik dalam hubungan sosialnya terutama dengan kedua orangtuanya dan teman-teman di sekitarnya serta terlihat tentram dalam menjalankan kehidupannya.

2.      Orang yang hidupnya kurang mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an

Nama               :M S
TTL                 : Serang, 23 Maret 1996
Alamat             : Kp.Kubang, Kec. Petir, Kab. Serang Banten.
Pekerjaan         : Pelajar ( Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di kota serang  )

M merupakan orang yang baik, aktif dalam kegiatan-kegiatan olahraga, dan cukup ramah. Tetapi, dalam hal ibadah terutama shalat Fardhu yang menjadi kewajibannya sering ia tinggalkan. Latar belakang keluarganya dalam segi pola asuh cukup baik, namun untuk hal keagamaan memang bisa dikatakan kurang baik.

Di bawah ini sedikit wawancara saya dengan M :

-          Seberapa sering anda membaca Al-Qur’an ?
“Saya jarang banget baca Al-Qur’an, kira-kira 1 bulan sekali lah saya baca Al-Qur’an”.

-          Sudahkah anda mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan ?
“Sejauh ini sih belum, jangankan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, membacanya saja sangat jarang”.

-          Pernah memiliki hal yang menakjubkan dengan Al-Qur’an, atau mungkin perasaan yang luar biasa ketika membaca Al-Qur’an ?
“hal yang menakjubkan, mmm… paling kaya gini sih. Pernah di suatu hari, saya sedang dalam keadaan yang benar-benar di bawah ( dalam arti sangat terpuruk ), ditambah pada saat itu saya sedang sakit yang bisa dikatakan parah. Akhirnya saya shalat malam dan setelah itu saya membaca Qur’an. Pada saat itu saya merasakan ketenangan, yang sebelumnya saya merasa sangat gelisah, depresi, benar-benar tidak bisa berfikir jernih, sedikit demi sedikit mulai mereda. Dari situ hampir setiap hari selama kurang lebih 2 minggu saya merutinkan membaca Al-Qur’an dan tak melupakan Shalat fardhu. Namun 3 minggu setelah itu saya kembali lagi kepada kebiasaan saya, saya jauh dari Al-Qur’an dan tak jarang saya melalaikan Shalat Fardhu, itu karena faktor lingkungan dan kesibukan yang menjadikan saya seperti itu”.

Dari hasil wawancara dan pengamatan yang saya lakukan, dalam menjalankan kehidupan M, ia terlihat kurang begitu tenang terutama ketika dihadapkan pada suatu masalah. Tak jarang ketika ia sedang memiliki masalah dalam hidupnya, ia melampiaskannya kepada hal-hal yang negatif, seperti merokok yang dapat merusak organ tubuhnya dan sering pulang malam.

C.   Kesimpulan
Dari perbandingan di atas, dapat disimpulkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi perilaku kita. Selain itu, tak bisa di pungkiri bahwa dengan merutinkan membaca Al-Qur’an serta mengamalkannya dalam kehidupan membuat hidup menjadi lebih tenang dan tentram. Selain itu orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan mendapatkan keberkahan hidup dan mudah dalam segala urusan.


Kesan/pelajaran yang saya dapat dari pengamatan tersebut, bahwa orang yang bisa dikatakan jauh dari Al-Qur’an/jarang sekali membaca Al-Qur’an ketika ia membacanya dengan sungguh-sungguh dan penuh kehati-hatian, serta merenungkan maksud yang terkandung di dalamnya, ia pasti merasakan perasaan yang luar biasa, merasakan ketenangan dan ketentraman hati. Sangat jelas bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad yang sungguh luar biasa dan tidak tertandingi. Selain itu, menjadi teguran pula untuk saya agar lebih dekat lagi dengan Al-Qur’an, tidak hanya merutinkan membaca Al-Qur’an saja, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.




[1] Muhammad Quraish Shihab, Lentera Al-Qur’an : Kisah dan hikmah kehidupan ( Bandung : Mizan Pustaka, 2008 ),hlm.21
[2] Ishaq Husaini Kuhsari, Al-Qur’an dan tekanan jiwa, ( Jakarta : Sadra, 2012 ),hlm.11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal tasawuf lebih dalam dengan 3 buku ini